Bapermades

Bapermades
Jl. Menteri Supeno 17 Semarang

Kamis, 07 Oktober 2010

HEGEMONI TTG

Pemberlakuan Asean Free Trade Area (AFTA) serta Asean China Free Trade Agreement (AC-FTA) menyebabkan produk-produk luar negeri, khususnya China menyerbu Indonesia. Bukan hanya pada ritel besar yang dibanjiri produk luar, melainkan juga pada produk-produk kecil, termasuk invensi lokal dan masih kecil bahkan embrio (rintisan) yang memang pure lokal yang tersebar di pelosok desa hingga kelurahan. Dengan begitu, kesempatan pemasaran produk lokal menjadi dipersempit oleh produk luar yang menawarkan harga murah. Hal inilah yang menuntut pemda untuk lebih kreatif dan inovatif mempererat kemitraan dengan pihak-pihak terkait selaku pelaku ekonomi. Di sinilah kita harus memiliki strategi dan inovasi khusus untuk melindungi, yang pasti akan menguntungkan produk lokal.
Selain produk dari luar negeri, Kota-kota besar di negeri ini juga dibanjiri oleh para pekerja atau tenaga profesional dari luar negeri. Berbagai perusahaan besar di daerah pun, banyak yang menggunakan pekerja asing. Untuk itu peningkatan daya saing para tenaga kerja menjadi sesuatu yang harus segera dipenuhi. Berlakunya era perdagangan bebas antara negara-negara Asean dengan Cina dalam konsesi Asean-China free Trade Agreement (AC-FTA), membuat persaingan antara pengusaha besar dan kecil/mikro sulit dihindari. Karena itu, dibutuhkan strategi khusus agar siap menghadapi pasar bebas. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas produksi barang yang dihasilkan. Namun demikian, para usaha kecil, penemu alat kecil tak perlu berkecil hati karena masih ada pasar yang mau mewadahi mereka, coba saja tengok beberapa perusahaan asing justru memilih produk dan teknologi yang anti kimia, dan tak berbahaya. Hal ini setidaknya cukup memberi ruang pasar bagi alat dan produk berbasis teknologi tepat guna.
Untuk menyaingi produk lain dari luar, diharapkan pengusaha kecil/mikro domestik dapat membuat produk yang berkualitas tinggi. Pemerintah juga harus cepat tanggap dalam menghadapi AC-FTA dengan cara memberikan informasi yang harus dilakukan para pengusaha di atas yang ada, termasuk juga memberi informasi terhadap barang ilegal yang banyak beredar. Hal ini bisa saja pemerintah membuka layanan on line telephon, SMS atau media khusus secara cuma-cuma maupun internet tentang informasi pasar dan harga bagi siapapun, dan kapanpun. Ini semua tentu membutuhkan konsekuensi penambahan anggaran bagi Pemda.
Pemerintah diharapkan memberikan keringanan pada pengusaha dimaksud dengan tidak menambahkan biaya apapun, ini penting untuk membantu usaha mereka. Untuk menghadapi ketatnya persaingan, kualitas produk-produk yang ada harus ditingkatkan, konsumen untuk berhati-hati dalam membeli produk. Pasalnya barang yang murah belum tentu punya kualitas bagus. Banyak barang yang murah, tapi sekali dipakai langsung rusak dan susah untuk diperbaiki. Hal tersebut tentu memberi peluang besar bagi produk berlatar teknologi tepat guna yang murah dan mudah dioperasionalkan serta mutu bagus sangat tersedia banyak.
Seperti kita ketahui bersama kesepakatan AC-FTA ini mulai dirundingkan pada tahun 2003, pengesahan kesepakatan AC-FTA untuk perdangan barang 29 November 2004 dan diamandemen 8 Desember 2006, pengesahan kesepakatan AC-FTA untuk perdagangan jasa 14 januari 2007 serta pengesahan kesepakatan AC-FTA untuk investasi 15 Oktober 2009. Tujuan AC-FTA sendiri adalah penguatan dan peningkatan kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi, mendorong liberalisasi dan promosi pertukaran barang dan jasa serta menciptakan iklim investasi yang transparan dan bebas serta konduksif.
Bagaimana dengan regulasi dan tarif terkait pelaksanaan AC-FTA; sesuai keppres No.48 tahun 2004 tentang pengesahan persetujuan kerangka kerja mengenai kerjasama ekonomi antara negara-negara Asia Tenggara dan RRC. Adanya peraturan Menteri keuangan No.235/PMK.011/2008 tentang penetapan tarif bea masuk dalam rangka ASEAN-China Free Trade Area dengan tarif bea masuk sebesar 0% (penghapusan bea masuk), serta kesepakatan agreement on trade in goods of the frame work agreement on comprehensive economic co-operation between the association of southeast asia nations and the people’s republic of china, tarif bea masuk ke china sebesar 0% (penghapusan bea masuk).
Menghadapi AFTA dan AC-AFTA tersebut, bukan tidak mungkin para perajin, enventor kecil juga sedikit banyak terusik. Karena jujur saja kita masih kekurangan teknologi. Tepatnya adalah teknologi tepat guna. Dengan teknologi tepat guna setidaknya pengusaha kecil/mikro dapat mengeksplorasi sumberdaya local yang ada dengan tetap merujuk norma serta kultur yang bertumbuh. Melalui teknologi yang disebut di atas, akan mengajak dan mendorong masyarakat memasuki tahapan menjadi manusia pembelajar seperti ditegaskan Andreas Harefa, karena di situlah masyarakat mengapreasiasi saratnya kekayaan sumberdaya yang melimpah dan masih bernilai ekonomi terbatas. Dengan teknologi tepat guna tentunya mentriger produktifitas usaha produktif masyarakat (kuantitas dan mutu).
Di luar itu, tentunya para perajin, pengusaha kecil/mikro, pegumul usaha ekonomi produktif yang berbasis teknologi tepat guna inilah, sesungguhnya lebih pada membutuhkan adanya pemberlakuan fair trade area. Pemberlakuan fair trade ini akan berasa melindungi kepentingan perajin, pengusaha kecil/mikro, inventor-inventor kecil dan pelaku lain yang menggeluti usaha produktif utamanya yang berbasis TTG. Pada level inilah, transformasi sosial pada akar rumput sesungguhnya terjadi.
Memang, AFTA dan AC-AFTA tak terhindar dan wajib diterima (hegemoni), dan moment demikian mampu memberi berkah tersebunyi (blessing disguise) munculnya kreasi, inovasi dan peraihan pasar baru dan terhormat bagi masyarakat keil/mikro. Di sinilah pentingnya pendayagunaan teknologi tepat guna dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan desa. Jadi, free trade saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi fair trade, jika kita ingin melindungi dan menyejahterakan masyarakat. Pada akhirnya, menghadapi persaingan pasar bebas kita tidaklah elok ketika berperan menjadi Don Kisot yang menyerang kincir angin yang dikiranya raksasa. Akhirnya teknologi tepat guna, teknologi lokal bakal menjad penyangga kekuatan global, khsususnya pasar Asean. *Marjono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar